Atas permintaan beberapa kawan, terpaksa saya sedikit terikut dalam hingar bingar media massa yang banyak membahas tentang apa yang disebut sebagai “ketegangan Indonesia-Malaysia”. Saat ini dirasakan semakin banyak masyarakat membabi buta membenci Malaysia disebabkan rasa nasionalisme-nya seakan-akan terpanggil. Visi yang baik dan konstruktif mengenai hubungan antar negara, khususnya Indonesia dengan negara-negara di Asia Tenggara diharapkan dapat menjadi filter dari serbuan opini destruktif yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Dipandang dari berbagai sisi, posisi indonesia di Asia Tenggara memegang peran kunci dalam menjaga kestabilan kawasan. Stabilitas kawasan menjamin tetap berlangsungnya pembangunan dalam masyarakat. Dapat kita lihat, ketidakstabilan di kawasan Asia Barat, Asia Tengah, Semenanjung Korea dan Afrika menumbuh suburkan kekerasan dan radikalisme yang pada akhirnya menghancurkan tatanan dan infrastruktur masyarakat di kawasan itu. Pertikaian yang tidak kunjung usai dapat menarik kembali peradaban masyarakat menuju ke “zaman batu”. Politisi yang bermoral tidak akan menarik masyarakat ke dalam pertikaian horizontal. Penyelesaian garis perbatasan pada kenyataannya merupakan domain pemerintah melelaui hubungan antar negara.
Secara objektif, visi integrasi dalam kawasan Asia Tenggara lebih menguntungkan daripada separasi. Sebenarnya hal ini telah diinisiasi pada level pemerintah negara-negara anggota ASEAN. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dalam upaya integrasi kawasan ini, didalamnya termasuk perbedaan tingkat ekonomi, nilai mata uang dan bahkan sistem pemerintahan. Oleh sebab itu, komunitas masyarakat Asia Tenggara perlu membuka diri dan saling berbaur untuk mempercepat proses integrasi. Apabila semua proses integrasi ini telah berlangsung, dapat dibayangkan betapa kuatnya nilai tawar Asia Tenggara di kancah dunia. Posisi geografis yang strategis, sumber daya alam yang kaya dan jumlah penduduk yang besar adalah modal utama yang jarang dimiliki kawasan lain di dunia. Indonesia, sudah pasti menjadi bagian yang paling penting di dalamnya. Tantangan terbesar lainnya datang dari negara-negara non kawasan dan koorporasi multinasional Eropa-Amerika. Stabilitas kawasan bisa memperlemah posisi tawar mereka dalam mengeruk sumber daya alam. Kita harus belajar dari konflik Kamboja-Thailand beberapa bulan lalu untuk dapat menyelesaikan masalah ini dengan cara yang bermartabat. Jangan pernah lupa, ada hubungan darah, budaya, sejarah dan bahkan agama yang kuat antara penduduk Malaysia dan Indonesia. Jangan sampai “ketegangan imaginer” ini meninggalkan noda hitam sejarah seperti yang pernah terjadi di daratan Eropa.
Dalam kaitannya dengan issue “ketegangan Indonesia-Malaysia”, perlu disadari bahwa di satu sisi, peran media massa sangat besar menentukan psikologi masyarakat, di sisi lain media massa senang memilih issue yang dapat mengangkat oplag dan rating agar tetap survive. Pada saat ini, motivasi media dalam menyiarkan berita lebih condong pada motif ekonomi daripada jurnalisme objektif. Masyarakat perlu memahami, bahwa ada ribuan fenomena yang terjadi di dunia ini, namun media massa memilihkan sejumlah kecil dari fenomena-fenomena tersebut untuk diangkat sebagai berita dan dikonsumsi oleh masyarakat. Fenomena mana yang dipilih oleh redaktur untuk diangkat ke publik didasarkan atas subjektifitas elit media massa. Seringkali pemilik media massa dan para pemilik saham menggunakan otoritas-nya kepada para kuli media untuk menentukan berita mana yang boleh dan tidak boleh disampaikan kepada masyarakat. Di Indonesia, sejumlah media massa dimiliki oleh pengusaha dan politisi. Dalam situasi seperti ini, sulit sekali mengharapkan media massa menyajikan berita yang objektif.
Bukan tidak mungkin, issue “petugas DKP”, merupakan bagian dari permaian politik dalam negeri. Permainan ini dapat saja diarahkan pada upaya penurunan wibawa pemerintah oleh partai oposisi atau bahkan keinginan partai pendukung koalisi untuk reshuffle kabinet.