DALAM RANGKA MEMPERINGATI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945-2010
Hari ini adalah tahun ke 65 dalam hitungan tahun Syamsiyah dan tahun ke 67 dalam hitungan tahun Qomariyah, rakyat Indonesia memperingati hari proklamasi.
Kemerdekaan itu ibarat impian, baik dahulu maupun saat ini. Hanya saja, perang melawan penjajah kolonial membuatnya seolah-olah nyata dan kasat mata. Meski sesungguhnya, perjuangan dahulu itu bukan semata-mata perang fisik atau heroisme militer, tetapi memang perjuangan kemerdekaan. Bila dikaji lebih jauh, orang-orang yang kita sebut sebagai The Founding Fathers itu nampaknya memang memahami dan mengalami pahit getirnya ke-tidakmerdeka-an dan ketertindasan. Sehingga dengan tegas mengambil posisi melawan pada setiap bentuk penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Sehingga sudah sewajarnya peringatan kemerdekaan itu diwujudkan melalui perenungan dan evaluasi, supaya kegiatan kenegaraan dan kebangsaan tidak menjadi salah jalan dan justru lari dari tujuan. Perenungan tentang masa lampau itu dapat diproyeksikan untuk kebaikan masa depan.
Indonesia bukan hanya sekedar satuan wilayah bekas jajahan Hindia Belanda dari Sabang sampai Merauke. Indonesia harus dilihat sebagai sebuah cita-cita agung ketika ia didirikan dari serpihan harga diri yang dikumpulkan dari rasa malu karena di”kelas dua”kan, dari pergulatan batin dan fikiran yang tumbuh dari pengalaman hidup kakek dan nenek moyang. Cita-cita agung dapat melampaui batas wilayah geografis (ruang) dan zaman (waktu). Bagi siapa saja yang bergabung dengan cita2 itu, dialah Indonesian. Jika hari ini masih terjadi pembodohan oleh para politisi, maka itu bukan Indonesia. Jika masih ada aparat berwenang yang sewenang-wenang, maka ia bukan Indonesian. Jika masih ada jendral-jendral menjadi backing judi togel dan pembalakan liar di hutan Papua dan Kalimantan dan Sumatera, ia bukan Indonesian. Maka dari itu, jika manipulasi suatu state elite terhadap rakyatnya benar-benar terjadi, maka model perjuangan perlu mengalami orientasi ulang untuk melawan model penjajahan kontemporer.
Dalam konteks masa kini, penjajahan kolonial sudah selesai namun penjajahan intelektual, ekonomi dan politik masih berlangsung. Materialisme dalam wujud nyata kapitalisme global merasuk ke dalam berbagai relung kehidupan. Hukum dapat dibeli dan undang-undang bisa dilelang. Transaksi finansial lebih diuntungkan daripada transaksi barang. Sumber-sumber air di gunung dan lembah diambil alih oleh koorporasi multinasional yang serakah namun pandai membuat citra dermawan. Sementara para petani harus membeli bibit, pupuk dan pompa air untuk menggali air tanah. Sumber-sumber mineral dikavling-kavling untuk dikuasai perusahaan keluarga dan kongsi asingnya. Pemodal asing semacam Shell, Chevron-Unocal dan ENI bermain di Ambalat dan mencari-cari cara untuk menghasut kebencian diantara rakyat, mengadu-domba saudara serumpun untuk mendapat keuntungan. Jurnalistik yang objektif berevolusi menjadi media hiburan yang lebih banyak memberitakan gossip selebritis, gaya hidup sosialita dan membuat kabar sesuai pesanan. Instisusi pendidikan yang semestinya mencerdaskan, justru menjadi bagian dari pembodohan. Sekolah mengutamakan pengajaran daripada pendidikan, persis seperti yang dikhawatirkan oleh Ki Hajar Dewantara berpuluh-puluh tahun lalu. Semua terjadi di depan mata, namun mata hanyalah perangkat untuk membantu fikir dan rasa. Mata lahir kita awas namun mata bathin kita tetap lamur.
Oleh sebab itu, karena kemerdekaan dalam hakikat adalah suatu pencapaian tak berhujung sebagaimana sebuah garis asymptotik, maka para pendiri bangsa tahu benar, bahwa dengan mencerdaskan kehidupan bangsa, akan terlahir jiwa-jiwa bebas dan membebaskan. Sehingga bukan sebuah kebetulan, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan didirikannya negara, dengan tegas dimaktub dalam Muqoddimah Undang Undang Dasar 1945.
Belanda, Inggris, Perancis, Portugis, Spanyol dan Jepang mungkin tidak meng-Aztec-kan atau meng-Inca-kan kita, namun Tuhan bisa saja mem-Pompeii-kan dan men-sodom-kan kita. Na’udzubillahi mindzalik.
Malang, 17 Agustus 2010
“Bukan” Presiden Re-Publik Indonesia