Saya baru selesai menonton film kungfu. Saya suka film kungfu dengan latar belakang zaman kerajaan Ching, zaman Perang Candu atau zaman yang lebih lampau lagi. Zaman ketika daratan China masih merupakan negeri yang terkoyak oleh perang. Melalui film itulah saya dapat mengenal istilah “Fan Ching, Fu Ming” yang terkenal itu. Diantara tokoh-tokoh kungfu yang saya kenal, nama Wong Fei Hung dan Yip Man adalah sosok yang saya kagumi sejak kecil. Kelihaian sutradara dalam meracik film sanggup menghipnotis mata sehingga saya terkena penyakit semacam insomnia temporal. Gerakan-gerakan Tai Chi yang lentur tidak bisa enyah dari fikiran. Jika saya bertemu dengan teman-teman masa kecil, biasanya mereka bertanya apakah saya masih suka memukul-mukul tembok dengan punggung tangan. Dulu saya terobsesi untuk dapat mempunyai pukulan yang kuat sepert Jet Li, sekarang cerita masa lalu itu menjadi lelucon menarik saat bernostalgia dengan teman-teman. Dan pada malam ini, setelah menonton film kungfu, sindrom insomnia temporal masih saja terjadi. Namun bukan karena gerakan-gerakan silat itu sehingga saya sulit tidur, tetapi karena ada hal lain yang mengusik tidur malam saya.
Setelah saya mengingat-ingat kembali film-film kungu yang pernah saya lihat, sepertinya ada tema sama yang diulang-ulang. Saya masih mengingat potongan terakhir film Wong Fei Hung. Suatu moment ketika dia selesai melumpuhkan penjahat dengan cara yang elegan. Dengan raut wajah yang pasti dia bicara lantang di hadapan para panglima militer yang duduk di atas panggung merah yang megah. Dia bicara pada jendral-jendral itu untuk berhenti bertikai dan berhenti memikirkan kepentingan pribadi. Dia bicara agar jendral-jendral mau membuka mata melihat penderitaan rakyat dan harga diri bangsa China yang pada saat itu mash dibawah telapak kaki bangsa asing. Sequel akhir itu sungguh tak bisa terlupakan. Saya mendapatkan bahwa banyak sekali film-film China berisi tentang perjuangan mereka mengembalikan “nation pride” yang jatuh pada tempatnya yang terhormat dengan segala penderitaan dan romantisme yang melingkupinya.
Saya kira karya-karya seni seperti film dan sinetron bisa mempengaruhi sisi kejiwaan seseorang. Jika film itu menjadi tontonan masyarakat maka pengaruhnya dapat mencapai skala individu yang lebih banyak. Bukan tidak mungkin tokoh-tokoh heroik semacam “Master Wong”, “Guru Mao” dan “Yip Man” bersemayam dalam benak “subconscious” setiap orang China. Ketika kesadaran tentang pentingnya harga diri bangsa menjadi suatu kesadaran kolektif maka lahir lah China baru dalam salah satu bentuk yang bisa dilihat hari ini: China sebagai raksasa ekonomi dunia. Bagi saya, kemajuan China saat ini tidak mungkin terjadi tiba-tiba hanya dengan bantuan Peri cantik bersayap kupu-kupu dan ucapan “sim salabim abrakadabra”. Selalu ada sebab sebelum akibat.
Akhir-akhir ini, saya juga membaca di koran-koran tentang film-film Indonesia yang beredar. Saya suka film Indonesia yang bagus seperti “Laskar Pelangi”. Tetapi film nasional yang seindah itu sangat sulit saya dapatkan. Perlu waktu beberapa tahun untuk dapat menikmati satu film karya anak bangsa yang indah, menggugah dan inspratif. Saya pernah melihat sekilas sinetron-sinetron di televisi, pada umumnya mereka menonjolkan artis-artis dengan raut wajah eropa, berkulit putih, berambut pirang atau rambut di-pirang-pirang-kan. Saya tidak bisa bercerita banyak tentang sinetron itu, karena memang “tidak punya waktu” untuk menontonnya.
Jika film memang benar-benar dapat mempengaruhi sisi kejiwaan, dapat terbayang betapa film dan sinetron kita mungkin telah mempengaruhi pula “subconscious” masyarakat dan terutama anak-anak kita. Bisa jadi, sebenarnya kita sudah bisa menebak karakter umum bangsa di masa depan, hanya melalui film dan sinetron yang ditayangkan hari ini.