Pulang ke kampung halaman adalah hal yang paling sentimental bagi siapapun di dunia ini. Dua minggu lalu saya menyempatkan pulang ke kampung halaman. Kalau boleh jujur, saya pernah tinggal di banyak tempat. Tetapi sepertinya sah-sah saja jika kita memiliki lebih dari satu kampung halaman, terutama jika kita punya orang tua yang tugas dinasnya berpindah-pindah. Selama beberapa hari yang singkat kemarin itu, saya tinggal di salah satu kampung halaman yang sekarang sudah menjadi setengah kota.
Saya bersyukur pernah dibesarkan di rumah yang memiliki halaman luas. Di pekarangan rumah itu kami menanam tanam-tanaman yang sewaktu-waktu dipanen untuk sarapan pagi, makan siang maupun makan malam. Kami juga punya kambing, domba, ayam, itik dan ternak unggas lainnya yang dapat dipotong, dimasak dan dimakan, bahkan pada musim belalang, kami menangkap belalang sebagai lauk nasi. Saya sering berpikir, seandainya keluarga kami tidak punya uang, kami tidak akan hidup kelaparan. Salah satu hal yang paling terkenang dalam hidup saya adalah pergi ke kebun di pagi hari mencari jamur yang dapat dimakan, meskipun sedikit jamur yang didapat, nikmatnya tak tertandingkan bahkan dengan caviar dari laut Kaspia sekalipun.
Namun dua minggu yang baru lalu itu, saya tidak lagi menemukan kebun-kebun yang luas itu. Pembangunan ada dimana-mana. Pabrik-pabrik besar berderet-deret, ruas-ruas jalan tol memotong dan memisahkan dua kebun kami sebelah-menyebelah, perumahan real estate membendung aliran air ke sawah yang sudah lama mengering dan tidak bisa digarap lagi. Sekarang hampir semua orang menjadi buruh kontrak di pabrik, kaum lelaki menjadi tukang ojek yang sepi penumpang, beberapa menjadi penganggur karena diputus kontraknya oleh pabrik setelah bekerja selama satu atau dua tahun. Ada juga beberapa pedagang makanan kecil yang lebih banyak melamunnya daripada melayani pembelinya karena sekarang semua orang sepertinya sedang berhemat. Diantara mereka ada saudara-saudara saya, yang lainnya tetangga dan sisanya orang-orang baru yang sama sekali saya tidak kenal.
Semua orang tiba-tiba mengeluh. Saudara saya yang menjadi buruh pabrik mengeluh gajinya tidak cukup untuk hidup hingga awal bulan depan. Para pedagang kelontongan dan warung penjual makanan mengeluh karena sepi pembeli sehingga tidak bisa memutar modalnya. Saya merasa aneh dengan keluhan itu dan tidak percaya kenapa hal ini bisa terjadi. Mereka seharusnya bersyukur dengan keberadaan pabrik itu karena mereka dapat menerima gaji setiap bulannya untuk dibelanjakan sehingga dengan itu pula ekonomi di kampung bisa berjalan. Saya tahu gaji mereka yang berkisar antara 1 hingga 1,5 juta perbulan sudah bisa dibilang cukup.
Dengan iseng saya menelusuri kemana saja uang sebanyak satu setengah juta itu dihabiskan. Rp. 300.000,- digunakan membayar kredit sepeda motor atau barang elektronik dan rumahtangga. Kemudian Rp. 150.000,- dihabiskan untuk membeli pulsa telepon seluler buat seluruh keluarga dan Rp. 50.000,- dibayarkan untuk biaya listrik. Selanjutnya Rp.200.000,- disisihkan untuk keperluan sekolah anak-anak. Sisanya Rp. 800.000,- untuk membeli bahan makanan dan keperluan lain-lain juga sedikit tabungan apabila masih ada sisa. Jadi keluhan itu tidak masuk akal kecuali memang ada sesuatu yang istimewa yang sedang terjadi di kampung kami. Namun saya juga tidak melihat ada kebakaran masal atau bencana alam seperti gempa bumi, longsor dan banjir di kampung kami yang dapat merusak roda perekonomian.
Usut punya usut, akhirnya saya menemukan bahwa hampir seluruh jumlah uang untuk kredit motor, pulsa dan listrik yang mereka bayarkan mengalir ke perusahaan besar di Jakarta. Namun hal itu seharusnya dimaklumi karena kampung kami tidak punya pabrik motor apalagi pabrik pulsa. Tetapi bukankah sisa uang satu juta rupiah yang dibelanjakan masih berputar dan ditransaksikan di antara orang-orang di kampung kami? Lalu kenapa para pedagang masih saja merasa sepi pembeli?
Saya ikuti kemana saja orang-orang itu membelanjakan uangnya untuk makanan dan keperluan mereka sehari-hari. Hingga akhirnya membawa saya ke sebuah minimarket waralaba di persimpangan jalan. Di sini saya terkejut saat mengetahui ternyata hampir separuh sisa uang dialirkan ke sebuah toko ritel berjaringan raksasa yang berpusat di Ibukota. Kepalang basah saya teruskan saja penelusuran dengan melihat produk barang keperluan sehari-hari seperti sabun mandi, shampo, minyak goreng dan lain-lain siapa tahu ada salah satu produk yang berasal dari kampung kami. Sebab walau bagaimanapun uang tetap akan mengalir kepada para produsen. Akhirnya saya malu sendiri, karena setahu saya tidak ada satupun warga kampung yang mampu memproduksi barang. Selain modal tidak ada, keahlian pun tidak punya, pendidikan paling banter hingga SMA.
***
Jabotabek adalah nama kereta api yang paling populer dan sering saya dengar ketika saya masih kecil di zaman orde baru dulu. Namun hari ini saya menyimpulkan, Jabotabek ternyata adalah tempat tinggal pabrik-pabrik dimana semua barang keperluan sehari-hari seluruh keluarga Indonesia diproduksi. Jabotabek adalah singkatan dari Jakarta Bogor Tangerang Bekasi. Kesanalah uang dari segala penjuru tanah air mengalir deras setiap hari. Sepertinya saya ingin pergi dan melihat tempat itu.
Saya pergi ke Jakarta naik kereta api. Turun dari kereta api saya dapat melihat api emas tugu monas dengan jelas. Gedung-gedung tinggi besar, jalanan macet dipenuhi mobil pribadi buatan Jepang, Korea, Eropa dan Amerika. Kata teman saya, di sini kita bisa melihat segala macam kendaraan bahkan Porsche, Bentley dan Jaguar sekalipun. Saya naik busway berbahan bakar gas yang ongkosnya murah dan saya mulai menyukainya. Di sini juga ada pabrik besar seperti Unilever, pusat ritel raksasa seperti Alfa, pusat leasing terbesar seperti Astra dan tempat uang dicetak di Bank Indonesia. Saya mencak-mencak membeli pangsit di pinggir jalan 15 ribu rupiah, di kampung saya membeli makanan pinggir jalan seperti itu cuma habis 2.500 perak. Begitulah keadaan di Jakarta yang saya temui dan saya tidak bisa bercerita lebih dari itu.
***
Saya pun kembali ke kampung halaman dan kembali bertemu orang-orang yang kebingungan dengan keadaan ekonomi mereka. Tidak ada yang bisa saya perbuat selain dari pada itu. Mereka tidak mungkin percaya apabila saya mengatakan, uang satu juta lima ratus ribu rupiah yang mereka dapatkan setiap bulannya, menguap kembali ke Jakarta. Saya juga tidak mungkin menganjurkan mereka agar mengambil keuntungan 100 persen dari setiap barang yang mereka jual untuk menahan derasnya laju uang kembali ke Jakarta, karena itu berarti mencekik leher saudara dan tetangganya di kampung. Saya sendiri tidak yakin seandainya mereka mendapat kredit lunak dari Bank untuk biaya produksi skala kecil akan berhasil, kecuali jika sistem ekonomi sudah berpihak pada mereka. Dalam kondisi seperti ini, kucuran dana BLT ibarat cairan dengan titik didih paling rendah yang bisa menguap di kutub paling beku sekalipun.
Akhirnya, kepada saudara, tetangga dan orang selewat di warung kopi, saya hanya bisa berkata”sabar”, sebab kata sabar adalah kata yang terdengar paling masuk akal di telinga mereka. Sebab saya juga terlalu malu untuk mengatakan, “saya sendiri tidak tahu harus bagaimana……”
cerita 800 ribu nya masih nggantung mam
anyway, tulisannya berhasil memporak-porandakan bayangan tentang kampung halaman kamu yg indah di paragraf pertama..
Comment by reza yazdi — March 4, 2009 @ 6:37 am |
Sudah aku tambah tuh, buat membeli makanan dan keperluan sehari-hari di minimarket A******t dan I******t
Comment by Muhamad Imam — March 5, 2009 @ 8:38 am |
bagus,yang bukan pidato presiden juga
Comment by rhoeo — August 17, 2010 @ 2:13 am |
Aku selalu berdo’a semoga rhoeo jadi presiden di LIPI…
Comment by Muhamad Imam — August 17, 2010 @ 8:15 am |